Kamis, 24 April 2014

Surat untuk "diri ini'




Assalamualakum warahmatullah wabarakatuh
Dear diri yang jauh disana…
Selamat pagi untuk diri yang penuh dengan bayangan malam gelap, selamat pagi untuk diri yang seperti ini… Pandanglah sejenak langit, pandanglah sejenak pagi, walau kini malam yang kau rasakan, sedikit ku ingin menanyakan kabarmu… dengan sapaan, apa kabar diri? Apa kabarmu hati? Bagaimana kabarmu fikiran?  Semoga senantiasa dalam kejernihan, waLau tidak mungkin jernih seperti sediakala. Semoga senantiasa dalam ketenangan, walau gundah semenjak kala  itu terus melanda. Dan walau semua itu yang kau rasakan, Semoga senantiasa terjaga iman dalam dadamu, kini aku ingin menyapa lagi, dengan pertanyaan, bagaimana perjalanan mu kali ini? Sudah sampai manakah jalan yang kau tempuh?
Aku akan selalu mendoakanmu, Semoga semakin dekat dengan tujuan yang sudah kau bangun semenjak kala itu, dan semoga masih pada peta perjalanan yang sudah diberikan olehNYA.
Aku ingin menyapa dirimu lagi, dengan sapaan seperti ini,
Wahai diri yang sejatinya meridukan kasiNYA, wahai diri yang sejatinya mengharapkan cinta suciNYA, Terus lah pada awal tujuanmu, bangunlah rumah yang indah, cemari lingkungan mu dengan ilmu yg sudah dimiliki, ajari terus dirimu, ajari terus ia, hingga ia benar2 faham, dan mengerti kedewasaan yang sebenarnya, tanpa ternodai kemunafikan, sekali lagi , ajari ia untuk ikhlas, tanpa kedustaaan, ajari ia untuk terus sabar dengan prosesnya, istiqomalh wahai diri yang seperti ini… percayalah kepadaNYA, kamu harus percaya padaNYA, janjiNYA, akan selalu ia tepati selagi kamu percaya, jangan merasa tersakiti pada siapapun yag menyakiti, jangan merasa tidak berguna pada siapapun yang menyepelekanmu, jangan merasa asing pada siapa yang mengasingkanmu, karna sesungguhnya kau berada pada keramaian cintaNYA, Allah yang melihatMU disitu, DIA yang akan mengobati hati yg sakit nan pilu, DIA yang akan menemani dikala sepimu itu, DIA yang akan memuliakan mu, sekali lagi ikhlaslah, ajari dirimu ikhlas, tulus untuk mencari ilmu dan menyebarkannya, agar kuat dirimu, agar kuat agama mu, dan kokohlah islam, ditangan orang2 yang berilmu… Suatu saat nanti pasti bisa, pasti akan kau rasakan nikmat indah itu, nikmat ilmu,nikmat ilmu yang dirindukan para pencari ilmu, nikmt kerinduan yang telah dirasakan penyebar ilmu dan para pemilik ilmu, suatu saat nanti, giliran dirimu yang jahil itu merasakannya,  hanya butuh waktu sejenak untuk merenung, sedikit lagi, butuh usaha untuk mewujudknnya,berusaha untuk tidak banyak kesalhan, karna tentu pasti memiliki kesalhan disetiap perubahan..
Sudahi untuk bermain.main menikmati dunia balita, sekarng waktunya, kau menikmati dunia kedewasaan, yang banyak di selimuti taman2 syurga keilmuan… disana kau akan mendapati keindahan yang tak terkira, keindahan yang sebenarnya dirindukan setiap insan ilmu… keindahan itu berada pada taman keimanan.
Mungkin belum pada masa ini, namun suatu saat nanti pasti akan aku nasehati diri ini dan kalian, akan aku nasehti, bukan untuk merasa benar, namun untuk membenarkan jalan yang belum benar, serahkan semuanya pada ALLAH saja,  serahkan padaNYA saja, sungguh DIA yang kau nantikan sebenarnya…
Sekian lama kau jauh, meninggalkan ku sendiri disini, sekian lama kau berjalan.jalan dijalan yang tanpa peta, kau menunduk, tanpa melihat dan memperhtaikanku, menundukan hati dan pandangan itu padaNYA juga, kenpa seperti itu dulu? Kenapa?
Sekali aku percaya , kau tak mau lagi seperti itukan? Dan kini aku bahgia, kau telah berada pada taman sejuk itu,  taman yang kau harapkan, namun tak pernah kau impikan sebelumnya, dan kau tak ingin pindah, apalagi berpaling, aku bahagia karna kau tak berpaling lagi, aku bahagia karna kau, hanya percaya padaNYA…
Aku ingat pada saat itu kau menyuruhku berdoa, kata-kata itu terngiang seperti ini
 “ Berdolah wahai hamba yang takberdaya, berdoalah pada Tuhan yang Maha daya.. berdolah seperti ini…
Allahumma ‘alimal ghaibi wasysyhadati fathiras samawati wal ardhi, rabba kulli syai’iwa malikahu, asyhadu alla ilaha anta, a’udzu bika min syarri nafsi, wa min syarrisy syaithani wa syirkii, wa ‘an ‘aqtarifa ‘ala nafsi sU’an au ajurrahu ila muslim
Kau pun melantuntkan artinya dengan syahdu, seperti ini :
‘’ya ALLAH Yang Maha mengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai TUHAN pencipta langit dan bumi, TUHAN segala sesuatu dan yang merajainya. Aku berlindung kepada MU dari kejahatan diriku, setan dan bala tentaranya dan aku berlindung kepadaMU dari berbuat kejelakan terhadap diri ku atau menyeratnya kepada seorang muslim. “
Aamiin…
Engkaulah diri yang penuh potensi. Engkaulah diri yang penuh kemampuan, yakinlah kekuatan mu ada, walau banyak kelemahan yg kau punya…
Kini aku tutup surat ini dengan imajinasimu waktu itu…
Bukankah kau sering membayangkan, suatu ketika kau berada pada bunga-bunga sakura dengan keindahan merah muda, diahiasi rerumputan hijau dan disampingnya ada sungai2 yang mengalir dengan tenang… kau berkata padaku, “jernihnya sungai itu, membuatku iri , namun aku senantiasa berdoa padaNYA, agar hatiku pun sama dengan jernihnya sungai itu..” itulah perkataan mu saat itu
setelah kau memandang sungai itu, kembali kau palingkan tatapan mu pada sekumpulan bunga tulip yang berwarna-warni, namun indah dipandang, aku perhatikan kau berdoa kembali padaNYA, yang kudengar “semoga hamba juga merasakan perbedaan seperti keindahan yang dipancarkan bunga-bunga tulip itu, perbedaan penuh kedamaian, tanpa menyalhkan salah satu warna, tanpa membela warna yang disukai,  
itulah imajinasi yang sering kau ceritakan padaku, taman kesejukan dalam alam bawah sadarmu, telah menghiasi setiap imajinasimu dengan awan-awan rindu pada NYA…
dan akhirnya, kaupun berada pada taman yang kau rindukan itu, taman iman nan indah…
doa ku, semoga IA senantiasa menjaga taman itu untuk mu selama-lamanya…
aamiin… sudah dulu ya diriku, aku percaya padamu, Bahwa kaulah wanita hebat, dengan keimanan yang selalu kau usahakan melukiskannya di taman keimanan hati mu…
 dan aku percaya padaNYA! bahwa IA akan selalu memberikan “Nor kholidah” (cahaya abadi) kepada mu…
Wassalam mualaykum warahmatullah wabarakatuh
Dari : ‘nurani’ yang merindukanmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar