Kamis, 01 Mei 2014

Pneumonia Pada Anak ^_^



PNEUMONIA PADA ANAK
Pneumonia
Pneumonia merupakan penyakit yang sering diderita oleh bayi dan anak seluruh dunia maupun indonesia. Penyakit ini termasuk penyakit mematikan kedua di Indonesia setelah diare (Riskedas, 2007). Hal ini menunjukkan bahwa pneumonia merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan utama yang berkonstribusi tingginya angka kematian balita di Indonesia.
Pneumonia merupakan suatu infeksi yang terjadi pada alveoli, dengan factor pencetusnya sebagian besar dari mikroorganisme (virus/bakter) dan sebagian kecil adalah dari bahan kimia. Pneumonia termasuk penyakit klinis yang terjadi pada parenkim paru, dan ditandai dengan adanya batuk, demam, ronki basah halus, sesak nafas.
Virus adalah suatu factor pencetus yang sering terjadi pada kasus pneumonia anak usia prasekolah dan pada bayi neonatus. Klasifikasi miikroorganisme penyebab pneumonia :
Umur
Mikroorganisme
Bayi neonatus
-          Streptococcus group B
-          Listeriae monocytogenes
5th keatas
-          Mycoplasma pneumonia
-          Chalamydia pneumonia

Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. Ada beberapa mekanisme yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi. Partikel infeksius difiltrasi di hidung, atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di saluran napas. Bila suatu partikel dapat mencapai paru-paru, partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler, dan juga dengan mekanisme imun sistemik, dan humoral. Bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan juga memiliki antibodi maternal yang didapat secara pasif yang dapat melindunginya dari pneumokokus dan organisme-organisme infeksius lainnya. Perubahan pada mekanisme protektif ini dapat menyebabkan anak mudah mengalami pneumonia misalnya pada kelainan anatomis kongenital, defisiensi imun didapat atau kongenital, atau kelainan neurologis yang memudahkan anak mengalami aspirasi dan perubahan kualitas sekresi mukus atau epitel saluran napas. Pada anak tanpa faktor-faktor predisposisi tersebut, partikel infeksius dapat mencapai paru melalui perubahan pada pertahanan anatomis dan fisiologis yang normal. Ini paling sering terjadi akibat virus pada saluran napas bagian atas. Virus tersebut dapat menyebar ke saluran napas bagian bawah dan menyebabkan pneumonia virus.
Kemungkinan lain, kerusakan yang disebabkan virus terhadap mekanisme pertahan yang normal dapat menyebabkan bakteri patogen menginfeksi saluran napas bagian bawah. Bakteri ini dapat merupakan organisme yang pada keadaan normal berkolonisasi di saluran napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari satu orang ke orang lain melalui penyebaran droplet di udara. Kadang-kadang pneumonia bakterialis dan virus (contoh: varisella, campak, rubella, CMV, virus Epstein-Barr, virus herpes simpleks) dapat terjadi melalui penyebaran hematogen baik dari sumber terlokalisir atau bakteremia/viremia generalisata.
Setelah mencapai parenkim paru, bakteri menyebabkan respons inflamasi akut yang meliputi eksudasi cairan, deposit fibrin, dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear di alveoli yang diikuti infitrasi makrofag. Cairan eksudatif di alveoli menyebabkan konsolidasi lobaris yang khas pada foto toraks. Virus, mikoplasma, dan klamidia menyebabkan inflamasi dengan dominasi infiltrat mononuklear pada struktur submukosa dan interstisial. Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel epitel ke dalam saluran napas, seperti yang terjadi pada bronkiolitis.




Analisis kasus
Data fokus
Data focus
Etiologi
Problem
Diagnose
Do: -
Ds:
-Hasil pemeriksaan foto thorak pneumonia duplex
-Inhalasi adrenalin 0,5 ml + NaCl 0,9% 3xhari (inhalasi selang-seling)
-inhalasi fluxetide ½ ampule + NaCl 0,9% 3xhari
-respirasi spontan dengan nasal kanule 1 liter/menit,
-RR 37-45 x /menit,
- ada bunyi stridor inspirasi
-retraksi epigastrium dan retraksi supra sternal,
Obtruksi jalan nafas
Bersihan jalan nafas tidak efektif
Bersihan jalan nafas b/d obtruksi jalan nafas
Do: -
Ds:
-CRT <3 detik
-saturasi O2 96-100%
-RR 37-45%
-TD 112/88 mmHg
-ND 129-144 x/Mnt
-bunyi stridor saat
Inpirasi
-retraksi epgastrium dan retraksi supra sternal

penurunan jaringan efektif paru dan kerusakan membran alveolar-kapiler

Gangguan pertukaran gas
Gangguan pertukaran gas b/d penurunan jaringan efektif paru dan kerusakan membran alveolar-kapiler

Do: -
Ds:
-terapi cairan pregesimil 8x120ml
-BB 55 kg
-dinyatakan kekurangan gizi
-anak mengis dan gerak masih lemah
Penurunan nafsu makan dan peningkatan metabolisme tubuh
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d peningkatan metabolisme

Diagnosa prioritas:
1.       Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d inflamasi dan obstruksi jalan nafas
2.       Gangguan pertukaran gas b/d penurunan jaringan efektif paru dan kerusakan membran alveolar-kapiler
3.       Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d peningkatan metabolisme tubuh dan penurunan nafsu makan
Nursing Care Planing

Diagnosa
NOC
NIC
Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d inflamasi dan obtruksi jalan nafas
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24jam, diharapkan jalan nafas efektif, dengan criteria hasil:
v  Respiratory status : Ventilation
-          Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
-          Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)
-          Mampu mengidentifikasikan dan mencegah factor yang dapat menghambat jalan nafas
Airway suction

§  Monitor status oksigen pasien
§  Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suctioning
§  Minta klien nafas dalam sebelum suction dilakukan.
§  Berikan O2 dengan menggunakan nasal untuk memfasilitasi suksion nasotrakeal
§  Gunakan alat yang steril sitiap melakukan tindakan
§  Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas dalam setelah kateter dikeluarkan dari nasotrakeal


Airway Management
·         Monitor respirasi dan status O2
·         Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
·         Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
·         Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
·         Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
·         Kolaborasi pemberian bronkodilator bila perlu
·         Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab
·         Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.


Gangguan pertukaran gas b/d penurunan jaringan efektif paru dan kerusakan membran alveolar-kapiler

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24jam diharapkan gangguan pertukaran gas tidak terjadi, dengan criteria hasil:
v  Vital Sign Status
-          Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
-          Tanda tanda vital dalam rentang normal

Respiratory Monitoring

·         Monitor rata – rata, kedalaman, irama dan usaha respirasi
·         Catat pergerakan dada, amati kesimetrisan, penggunaan otot tambahan, retraksi otot supraclavicular dan intercostal
·         Monitor suara nafas, seperti dengkur
·         Monitor pola nafas : bradipena, takipenia, kussmaul, hiperventilasi, cheyne stokes, biot
·         Catat lokasi trakea
·         Monitor kelelahan otot diagfragma ( gerakan paradoksis )
·         Auskultasi suara nafas, catat area penurunan / tidak adanya ventilasi dan suara tambahan
·         Tentukan kebutuhan suction dengan mengauskultasi crakles dan ronkhi pada jalan napas utama
·         Auskultasi suara paru setelah tindakan untuk mengetahui hasilnya




Evidence Based Nursing

HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA ANAK USIA 6 BULAN - 5 TAHUN
DI RSUD DR. MUWARDI SURAKARTA
Di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, pajanan mikroorganisme patogen maupun zat alergen lainnya masih merupakan masalah. Infeksi gastrointestinal maupun non gastrointestinal lebih sering ditemukan pada bayi yang mendapat pengganti air susu ibu (PASI) dibanding dengan yang mendapat air susu ibu (ASI). Hal ini menandakan bahwa ASI merupakan komponen penting pada sistem imun mukosa gastrointestinal maupun mukosa lain, karena sebagian besar mikroorganisme masuk ke dalam tubuh melalui mukosa (Matondang, dkk, 2008).
Air susu ibu selain sebagai sumber nutrisi dapat memberi perlindungan kepada bayi melalui berbagai zat kekebalan yang dikandungnya. Walaupun ibu dalam kondisi kekurangan gizi sekalipun, ASI tetap mengandung nutrisi esensial yang cukup untuk bayi dan mampu mengatasi infeksi melalui komponen sel fagosit dan imunoglobulin (Munasir dan Kurniati, 2008). Selain itu, ASI akan merangsang pembentukan daya tahan tubuh bayi sehingga ASI berfungsi pula sebagai imunisasi aktif (Roesli, 2005).
Penelitian - penelitian yang sudah dilakukan para ahli melaporkan bahwa ASI dapat mengurangi kejadian dan beratnya penyakit diare, infeksi saluran napas, otitis media, meningitis, infeksi saluran kemih, dan infeksi saluran cerna yang disertai kematian jaringan (Tumbelaka dan Karyanti, 2008). Para ahli juga menemukan bahwa manfaat ASI akan sangat meningkat bila bayi hanya diberikan ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupannya (Roesli, 2005). Adapun hasil eksperimen pada hewan uji membuktikan bahwa limfosit yang terdapat di dalam ASI dapat melintasi dinding usus bayi dan masuk ke dalam sirkulasi darah, sehingga dapat mengaktifkan sistim imun bayi (Chantry, dkk,)
Ada hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian pneumonia pada anak usia 6 bulan - 5 tahun di RSUD Dr. Muwardi Surakarta ( p = 0,004 ) serta ada asosiasi negatif antara faktor risiko dengan penyakit ( ORMH = 0,0585 ). Hal ini berarti ASI eksklusif menurunkan terjadinya pneumonia.

Pendekatan Intervensi keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan tumbang anak
Prinsip perawatan Hospitalisasi anak
  1. Mencegah dan meminimalkan perpisahan
  2. Mengurangi pembatasan pergerakan
  3. Meningkatkan kebebasan bergerak
  4. Mempertahankan rutinitas anak
  5. Meminimalkan cidera tubuh
  6. Pengkajian nyeri
Terapi Bermain
      Bermain adalah salah satu aspek penting dari kehidupan anak dan salah satu alat paling penting untuk Penatalaksanaan stres karena hospitalisasi menimbilkan krisis dalam kehidupan anak. Dalam keadaan hospitalisasi disertai stress yg berlebihan (Wong, 2009).
Bermain menyediakan kebebesan untuk mengekspresikan emosi dan memberikan perlingungan anak terhadap stress, sebab bermain membantu anak menanggulangi pengalaman yang tidak menyenangkan, pwngobatan dan prosedur invasif
  1. Bermain di Rumah Sakit dan prinsip-prinsip bermain di RS:
    1. Anak tidak banyak menggunakan energi, bermain singkat untuk menghindari kelelahan dan alat2 bermain yg ,ebih sederhana
    2. Relatif aman dan terhindar dari infeksi silang
    3. Sesuai dengan kelompok usia
    4. Tidak bertentangan dengan terapi
    5. Perlu partisipasi orang tua dan keluarga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar