PNEUMONIA
PADA ANAK
Pneumonia
Pneumonia
merupakan penyakit yang sering diderita oleh bayi dan anak seluruh dunia maupun
indonesia. Penyakit ini termasuk penyakit mematikan kedua di Indonesia setelah
diare (Riskedas, 2007). Hal ini menunjukkan bahwa pneumonia merupakan penyakit
yang menjadi masalah kesehatan utama yang berkonstribusi tingginya angka
kematian balita di Indonesia.
Pneumonia
merupakan suatu infeksi yang terjadi pada alveoli, dengan factor pencetusnya
sebagian besar dari mikroorganisme (virus/bakter) dan sebagian kecil adalah
dari bahan kimia. Pneumonia termasuk penyakit klinis yang terjadi pada parenkim
paru, dan ditandai dengan adanya batuk, demam, ronki basah halus, sesak nafas.
Virus
adalah suatu factor pencetus yang sering terjadi pada kasus pneumonia anak usia
prasekolah dan pada bayi neonatus. Klasifikasi miikroorganisme penyebab
pneumonia :
Umur
|
Mikroorganisme
|
Bayi neonatus
|
-
Streptococcus
group B
-
Listeriae
monocytogenes
|
5th keatas
|
-
Mycoplasma
pneumonia
-
Chalamydia
pneumonia
|
Sebagian besar
pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. Ada beberapa mekanisme
yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi. Partikel infeksius
difiltrasi di hidung, atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel
bersilia di saluran napas. Bila suatu partikel dapat mencapai paru-paru,
partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler, dan juga dengan
mekanisme imun sistemik, dan humoral. Bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan
juga memiliki antibodi maternal yang didapat secara pasif yang dapat
melindunginya dari pneumokokus dan organisme-organisme infeksius lainnya.
Perubahan pada mekanisme protektif ini dapat menyebabkan anak mudah mengalami
pneumonia misalnya pada kelainan anatomis kongenital, defisiensi imun didapat
atau kongenital, atau kelainan neurologis yang memudahkan anak mengalami
aspirasi dan perubahan kualitas sekresi mukus atau epitel saluran napas. Pada
anak tanpa faktor-faktor predisposisi tersebut, partikel infeksius dapat
mencapai paru melalui perubahan pada pertahanan anatomis dan fisiologis yang
normal. Ini paling sering terjadi akibat virus pada saluran napas bagian atas.
Virus tersebut dapat menyebar ke saluran napas bagian bawah dan menyebabkan
pneumonia virus.
Kemungkinan lain,
kerusakan yang disebabkan virus terhadap mekanisme pertahan yang normal dapat
menyebabkan bakteri patogen menginfeksi saluran napas bagian bawah. Bakteri ini
dapat merupakan organisme yang pada keadaan normal berkolonisasi di saluran
napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari satu orang ke orang lain
melalui penyebaran droplet di udara. Kadang-kadang pneumonia bakterialis dan
virus (contoh: varisella, campak, rubella, CMV, virus Epstein-Barr, virus
herpes simpleks) dapat terjadi melalui penyebaran hematogen baik dari sumber
terlokalisir atau bakteremia/viremia generalisata.
Setelah mencapai
parenkim paru, bakteri menyebabkan respons inflamasi akut yang meliputi
eksudasi cairan, deposit fibrin, dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear di
alveoli yang diikuti infitrasi makrofag. Cairan eksudatif di alveoli
menyebabkan konsolidasi lobaris yang khas pada foto toraks. Virus, mikoplasma,
dan klamidia menyebabkan inflamasi dengan dominasi infiltrat mononuklear pada
struktur submukosa dan interstisial. Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel
epitel ke dalam saluran napas, seperti yang terjadi pada bronkiolitis.
Analisis kasus
Data fokus
|
Data focus
|
Etiologi
|
Problem
|
Diagnose
|
|
Do: -
Ds:
-Hasil pemeriksaan foto
thorak pneumonia duplex
-Inhalasi
adrenalin 0,5 ml + NaCl 0,9% 3xhari (inhalasi selang-seling)
-inhalasi fluxetide ½ ampule + NaCl 0,9% 3xhari
-respirasi spontan dengan nasal kanule
1 liter/menit,
-RR 37-45 x /menit,
- ada bunyi stridor inspirasi
-retraksi epigastrium dan retraksi supra sternal,
|
Obtruksi jalan nafas
|
Bersihan jalan nafas tidak efektif
|
Bersihan jalan nafas b/d obtruksi jalan nafas
|
|
Do: -
Ds:
-CRT <3 detik
-saturasi O2 96-100%
-RR 37-45%
-TD 112/88 mmHg
-ND 129-144 x/Mnt
-bunyi stridor saat
Inpirasi
-retraksi epgastrium dan
retraksi supra sternal
|
penurunan jaringan efektif
paru dan kerusakan membran alveolar-kapiler
|
Gangguan pertukaran gas
|
Gangguan
pertukaran gas b/d penurunan jaringan efektif paru dan kerusakan membran
alveolar-kapiler
|
|
Do: -
Ds:
-terapi cairan pregesimil
8x120ml
-BB 55 kg
-dinyatakan kekurangan gizi
-anak mengis dan gerak
masih lemah
|
Penurunan nafsu makan dan peningkatan metabolisme
tubuh
|
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
|
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
b/d peningkatan metabolisme
|
Diagnosa prioritas:
1.
Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d
inflamasi dan obstruksi jalan nafas
2.
Gangguan pertukaran gas b/d penurunan jaringan efektif paru dan kerusakan
membran alveolar-kapiler
3.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d peningkatan metabolisme
tubuh dan penurunan nafsu makan
Nursing Care Planing
|
Diagnosa
|
NOC
|
NIC
|
|
Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d
inflamasi dan obtruksi jalan nafas
|
Setelah diberikan asuhan keperawatan
selama 3x24jam, diharapkan jalan nafas efektif, dengan criteria hasil:
v Respiratory
status : Ventilation
-
Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas
yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu bernafas dengan mudah,
tidak ada pursed lips)
-
Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak
merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal,
tidak ada suara nafas abnormal)
-
Mampu mengidentifikasikan dan mencegah factor
yang dapat menghambat jalan nafas
|
Airway suction
§
Monitor status oksigen pasien
§
Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah
suctioning
§ Minta klien nafas dalam sebelum suction dilakukan.
§ Berikan O2 dengan menggunakan nasal untuk memfasilitasi
suksion nasotrakeal
§ Gunakan alat yang steril sitiap melakukan tindakan
§ Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas dalam setelah
kateter dikeluarkan dari nasotrakeal
Airway Management
·
Monitor
respirasi dan status O2
·
Posisikan
pasien untuk memaksimalkan ventilasi
·
Identifikasi
pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
·
Keluarkan
sekret dengan batuk atau suction
·
Auskultasi
suara nafas, catat adanya suara tambahan
·
Kolaborasi
pemberian bronkodilator bila perlu
·
Berikan
pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab
·
Atur intake
untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
|
|
Gangguan pertukaran gas
b/d penurunan jaringan efektif paru dan kerusakan membran alveolar-kapiler
|
Setelah diberikan asuhan keperawatan
selama 3x24jam diharapkan gangguan pertukaran gas tidak terjadi, dengan
criteria hasil:
v
Vital Sign Status
-
Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas
yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu
bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
-
Tanda tanda
vital dalam rentang normal
|
Respiratory Monitoring
·
Monitor rata –
rata, kedalaman, irama dan usaha respirasi
·
Catat
pergerakan dada, amati kesimetrisan, penggunaan otot tambahan, retraksi otot
supraclavicular dan intercostal
·
Monitor suara
nafas, seperti dengkur
·
Monitor pola
nafas : bradipena, takipenia, kussmaul, hiperventilasi, cheyne stokes, biot
·
Catat lokasi trakea
·
Monitor
kelelahan otot diagfragma ( gerakan paradoksis )
·
Auskultasi
suara nafas, catat area penurunan / tidak adanya ventilasi dan suara tambahan
·
Tentukan
kebutuhan suction dengan mengauskultasi crakles dan ronkhi pada jalan napas
utama
·
Auskultasi
suara paru setelah tindakan untuk mengetahui hasilnya
|
Evidence Based Nursing
HUBUNGAN
ANTARA PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA ANAK USIA 6 BULAN
- 5 TAHUN
DI RSUD DR. MUWARDI SURAKARTA
Di
negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, pajanan mikroorganisme patogen
maupun zat alergen lainnya masih merupakan masalah. Infeksi gastrointestinal
maupun non gastrointestinal lebih sering ditemukan pada bayi yang mendapat
pengganti air susu ibu (PASI) dibanding dengan yang mendapat air susu ibu
(ASI). Hal ini menandakan bahwa ASI merupakan komponen penting pada sistem imun
mukosa gastrointestinal maupun mukosa lain, karena sebagian besar
mikroorganisme masuk ke dalam tubuh melalui mukosa (Matondang, dkk, 2008).
Air
susu ibu selain sebagai sumber nutrisi dapat memberi perlindungan kepada bayi
melalui berbagai zat kekebalan yang dikandungnya. Walaupun ibu dalam kondisi
kekurangan gizi sekalipun, ASI tetap mengandung nutrisi esensial yang cukup
untuk bayi dan mampu mengatasi infeksi melalui komponen sel fagosit dan
imunoglobulin (Munasir dan Kurniati, 2008). Selain itu, ASI akan merangsang
pembentukan daya tahan tubuh bayi sehingga ASI berfungsi pula sebagai imunisasi
aktif (Roesli, 2005).
Penelitian
- penelitian yang sudah dilakukan para ahli melaporkan bahwa ASI dapat
mengurangi kejadian dan beratnya penyakit diare, infeksi saluran napas, otitis
media, meningitis, infeksi saluran kemih, dan infeksi saluran cerna yang
disertai kematian jaringan (Tumbelaka dan Karyanti, 2008). Para ahli juga
menemukan bahwa manfaat ASI akan sangat meningkat bila bayi hanya diberikan ASI
saja selama 6 bulan pertama kehidupannya (Roesli, 2005). Adapun hasil
eksperimen pada hewan uji membuktikan bahwa limfosit yang terdapat di dalam ASI
dapat melintasi dinding usus bayi dan masuk ke dalam sirkulasi darah, sehingga
dapat mengaktifkan sistim imun bayi (Chantry, dkk,)
Ada
hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian pneumonia pada anak
usia 6 bulan - 5 tahun di RSUD Dr. Muwardi Surakarta ( p = 0,004 ) serta ada
asosiasi negatif antara faktor risiko dengan penyakit ( ORMH = 0,0585 ). Hal
ini berarti ASI eksklusif menurunkan terjadinya pneumonia.
Pendekatan Intervensi keperawatan
dalam pemenuhan kebutuhan tumbang anak
Prinsip perawatan Hospitalisasi anak
- Mencegah dan meminimalkan perpisahan
- Mengurangi pembatasan pergerakan
- Meningkatkan kebebasan bergerak
- Mempertahankan rutinitas anak
- Meminimalkan cidera tubuh
- Pengkajian nyeri
Terapi Bermain
Bermain adalah salah satu aspek penting
dari kehidupan anak dan salah satu alat paling penting untuk Penatalaksanaan
stres karena hospitalisasi menimbilkan krisis dalam kehidupan anak. Dalam keadaan
hospitalisasi disertai stress yg berlebihan (Wong, 2009).
Bermain
menyediakan kebebesan untuk mengekspresikan emosi dan memberikan perlingungan
anak terhadap stress, sebab bermain membantu anak menanggulangi pengalaman yang
tidak menyenangkan, pwngobatan dan prosedur invasif
- Bermain di Rumah Sakit dan prinsip-prinsip bermain di RS:
- Anak tidak banyak menggunakan energi, bermain singkat untuk menghindari kelelahan dan alat2 bermain yg ,ebih sederhana
- Relatif aman dan terhindar dari infeksi silang
- Sesuai dengan kelompok usia
- Tidak bertentangan dengan terapi
- Perlu partisipasi orang tua dan keluarga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar