ARKOMEGALI DAN GIGANTISME
Makhluk
hidup senantiasa memperbarui diri dalam proses kembang dan tumbuhnya secara
sistemik. Dalam tubuh manusia, ada berbagai macam system yang mengatur proses perkembangan
dan pertumbuhan secara kimiawi. Perihal tersebut dibutuhkan integrasi komponen
dalam diri manusia untuk melangsungkan hidup. System yang peran mempengaruhi
integrasi ini ialah system endokrin dan system saraf pusat. Kedua system ini
berhubungan secara embriologis, anatomis, dan fungsional. Kerja sama dua sitem ini disebut “neuroendokrin”, dan dapat membantu organisme memberikan reaksi
maksimal terhadap rangsangan internal dan eksternal ( David, 2002). Penulis
akan memaparkan mengenai bagaimana hormone bekerja mengendalikan dan
mempengaruhi aktivitas fungsi organ dalam tubuh manusia, sehingga sampai pada
sitem endokrin mengalami gangguan dan tidak dapat mengatur fungsi organ secara
keseluruhan. Untuk mengetahui penyebab dari ganguan dan bagaimana cara
mengatasi klien terhadap gangguan itu. Pada kesempatan kali ini, penulis akan
mengangkat penguraian mengenai gangguang yang terjadi pada kelenjar hipofisis
sebagai master gland .
System
endokrin merupakan system penghasil dan pelepas hormone kedalam darah. System
endokrin terdiri dari sekelompok organ yang bekerja untuk menghasilkan hormon-hormon
dalam tubuh. Organ-organ ini yang akan mengatur dan menghasilkan hormone yang
dibutuhkan oleh organ tubuh lain dalam melakukan aktivitasnya. Hormone
merupakan zat yang dilepas kelenjar menuju aliran darah. Hormone berisi protein
yang terdiri dari rantai asam amino dengan panjang yang berbeda-beda. Sisanya
merupakan streroid yaitu zat lemak yang merupakan derivate dari kolestrol. Dengan jumlah yang kecil hormone bisa
mempengaruhi respon tubuh secara luas.(Apotik online
dan media informasi obat - penyakit :: m e d i c a s t o r e .c o m)
Hormon
berikatan dengan reseptor sehingga mampu mempercepat, memperlambat atau merubah
fungsi sel yang akhirnya hormone mengendalikan fungsi organ secara menyeluruh.
Hormone dapat mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan, mengatur
perkembangbiakan dan ciri-ciri seksualitas, hormone mampu mempengaruhi tubuh
bagaimana cara menyimpan energi, dan mengendalikan volum cairan dan gram darah. (Apotik online dan media informasi obat - penyakit :: m e d
i c a s t o r e .c o m)
Hipotalamus
dan hipofiss termasuk organ yang mempengaruhi system kerja kelenjar endokrin.
Hipotalamus melepaskan beberapa hormone dan merangsang hipofisis. Hipofisis sebagai
master gland, karena bagian anterior
hipofisis mempunyai banyak fungsi dan memiliki kemampuan dalam mengatur
fungsi-fungsi organ lain ( David, 2002).
Sel-sel
hipofisis anterior merupakan sel-sel yang khusus menyekresi hormone-hormon
tertentu, hormone-hormon tersebut adalah adrenocorticotropic
hormone (ACTH), melanococyte stimulatying hormon (MSH), tyroid-stimulating hormon (tyrotropin, TSH), filicle stimulating hormone
(FSH), lueteinizing hormone (LH), growth hormone (GH), dan prolactin hormone (PRL). Penelitian
morfologis menemukan bahwa setiap hormone disintesis oleh satu jenis sel
tertentu. Jika kelenjar endokrin mengalami kelainan fungsi, maka kadar hormon
di dalam darah bisa menjadi tinggi atau rendah, sehingga mengganggu fungsi
tubuh ( David, 2002).
ARKOMEGALI DAN GIGANTISME akibat
dari Tumor Hipofisis
Arkomegali
dan gigantisme adalah kelainan yang disebabkan adanya tumor hipofisis atau bisa
dikarenakan Hipotalamus yang melepaskan GH secara berlebihan. Bila kelebihan GH
terjadi pada masa anak-anak dan remaja, maka pertumbuhan longitudinal sangat
cepat dan akan terlihat seperti raksasa. Setelah pertumbuhan somatic
selesai, Hiperekresi GH tidak akan
menimbulkan gigantisme, melainkan akan menyebabkan penebalan tulang-tulang dan
jaringan lunak. Keadaan inilah yang disebut akromegali
( David, 2002).
Pasien
dengan arkomegali memiliki kadar basal GH dan IGF-1 yang tinggi dan juga dapat
diuji dengan pemberian glukosa oral. Pada subjek yang normal, induksi hiperglikemia
dengan glukosa akan menekan kadar GH. Sebaliknya, pada pasien akromegali atau
gigantisme kadar GH gagal ditekan ( David, 2002). GH tidak dapat merangsang pertumbuhan tanpa
adanya IGF-1, namun pada pasien dengan arkomegali, produksi IGF-1 berlebihan
atau kadar yang diperlukan lebih dari batas yang diperlukan. Akibat dari
produksi yang berlibihan ini penderita menglamai pertumbuhan berlebih diluar
dari batas normal. Sesorang akan tampak besar dan bentuk tangan besar
menyerupai segi empat.
Diagnosa
akromegali ditegakkan berdasarkan temuan klnis akromegali, evaluasi
laboratorium, dan pencitraan. Dan didapatkan peningkatan hormone pertumbuhan
dan IGF-1 pada pemeriksaan laboratorium, dan adenoma hipofisis pada pemeriksaan
Magnetic Resonance Imaging (MRI) kepala (Rahmat cahya nur, 2010).
Angka
pervalensi arkomegali diperkirakan mencapai 70 kasus dari satu juta penduduk.
Sementara angka kejadian akromegali diperkirakan mencapai 3-4 kasus setiap
tahunnya dari satu juta penduduk di Indonesia. Usia rerata pasien yang
terdiagnosa akromegali adalah 40-45 tahun (Rahmat cahya nur, 2010).
Akromegali
yang diakibatkan oleh tumor hipofisis pada klien akan mengalami nyeri kepala
bitemporal dan gangguan penglihatan disertai hemianopsia bitemporal akibat
penyebaran supraselar tumor tersebut, dan adanya penekanan kiasma optikum. (
David, 2002). Gejala ini timbul karena adanya pembesaran tumor. Apabila
pembesaran ini menyebar ke otak lain, maka klien akan mengalami kejang dan
risiko terganggunya kepribadian anak atau klien (Rahmat cahya nur, 2010).
Penanganan
yang adekuat akan mengurangi angka resiko penyebaran tumor. Tatalaksana
dilakukan untuk mengendalikan pertumbuhan tumor, menghambat sekresi hormon
pertumbuhan, dan normalisasi kadar IGF-I. Terdapat tiga modalitas terapi yang
dapat dilakukan pada kasus akromegali, yaitu pembedahan, medikamentosa dan
radioterapi (Rahmat cahya nur, 2010). Dari penjelsan diatas untuk menangani
kelainan ini, ialah dengan menghambat penyebaran tumor hipofisis, menghambat
sekesi GH dan normalisasi kadar IGF-1, dengan melakukan tindakan pembedahan,
medikamentosa dan radioterapi. Namun, disini akan lebih memaparkan bagaimana
tindakan-tindakan tersebut mampu menghambat penyabaran tumor atau adenoma hipofisa.
Tindakan
pembedahan diharapkan dapat mengangkat seluruh massa tumor sehingga kendali
terhadap sekresi hormon pertumbuhan dapat tercapai. Tidak semua kasus
akromegali dapat diatasi hanya dengan pembedahan. Pada keadaan ini dapat
dipilih terapi alternatif pilihan yaitu kombinasi terapi pembedahan debulking dengan terapi medikamentosa
atau radioterapi pasca pembedahan (Rahmat cahya nur, 2010).
Hasil
penelitian mengenai radioterapi atau peran radiasi dalam penanganan adenoma
atau tumor hipofisis menyatakan bahwa Pemberian radiasi pasca pembedahan terbukti menurunkan angka
kekambuhan (22-71% vs 8-23%) secara bermakna. Sasaran radiasi pada adenoma
hipofisa adalah glandula hipofisa yang merupakan daerah bervolume kecil dan terletak
di tengah-tengah jaringan otak. Dengan demikian radiasi eksterna yang diberikan
akan melalui jaringan otak normal di sekitarnya yang cukup luas (Soehartati,
2004). Pemaparan diatas dapat dijadikan alternaif lain untuk penanganan yang
lebih efektif. Dimana pemberian terapi radiasi bisa menjadi alternative terapi
setelah dilakukan pembedahan.
Terapi
radiasi adalah pengobatan dengan menggunakan sinar pengion 6. Dimana 1 tahun
semenjak ditemukan sinar X oleh Wilhelm Conrad Roentgen pada tahun 1895 sinar X telah mulai
digunakan untuk pengobatan disamping untuk diagnosis. Setelah itu mulai banyak
dipelajari dan ditemukan berbagai pengetahuan baik dalam hal pengetahuan ilmu
dasar (radiobiologi selular, molekuler maupun radiofisika) sehingga aplikasi
klinis dari sinar tersebut juga mulai lebih berkembang lagi (Soehartati, 2004).
Terdapat 2 jenis sinar pengion yaitu
gelombang elektromagnetik (foton) dan partikel berenergi yang keduanya akan mengakibatkan
terjadinya proses ionisasi bila melewati berbagai materi termasuk materi
biologik. Proses ionisasi adalah perpindahan elektron dari orbit sekitar inti
atom atau molekul yang diliwati oleh sinar pengion, sehingga atom atau molekul
tersebut akan mempunyai kelebihan muatan positif yang dikenal sebagai ion Berbagai
tingkat kerusakan
dapat terjadi akibat proses ionisasi
dari yang teringan hingga yang terberat berupa double strand break DNA yang dapat dapat menyebabkan
kematian sel. (Soehartati, 2004). Sehingga cara kerja radiasi ini adalah dengan
proses ionisasi yang melewati berbagai materi, seperti materi biologic, dan
akan mengakibatkan kelebihan muatan positif, yang dikenal sebagai ion yang
dapat menyebabkan kematian sel.
Therapeutic ratio merupakan hal yang sangat penting
dalam terapi radiasi, dimana hal ini merupakan salah satu dasar bahwa terapi
radiasi diberikan dalam bentuk fraksinasi dengan mengandalkan beberapa
perbedaan sifat biologik sel sehat dan sel tumor, sehingga sel tumor akan
mendapat dampak lebih besar akibat pemberian radiasi. Beberapa faktor lain juga
dapat mempengaruhi hasil radiasi, misalnya adalah ketidak tepatan penentuan
lokalisasi target radiasi (geographic
miss)dan juga
ukuran tumor (Soehartati, 2004). Sehingga hal-hal penting yang mendasari dan factor-faktor yang dapat
mempengaruhi harus diketahui sebelum pelaksanaan diterapkan, agar mendapatkan
hasil yang optimal.
Adenoma hipofisa adalah salah satu
factor yang mempengaruhi timbulnya nyeri pada klien arkomegali. Walaupun
factor-faktor lain juga dapat memicu perparahan penyakit ini, seperti kadar IGF
-1 yang tinggi dan sekresi GH yang berlebihan harus diperhatikan juga.
Penanganan-penganan yang diberikan lebih berpokok pada penuntasan penyebaran
tumor karena untuk menghilangkan rasa nyeri klien. Seperti terapi radiasi yang
meggunakan proses ionosasi yang meleawati berbagai materi, sehingga
menghasilkan muatan positif dan menyebabkan kematian sel.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar